Skip to content

Krisis Ekonomi, AS Persulit Akses ke Pasar Tenaga Kerja

Juli 18, 2009

Ekonomi AS adalah yang terbesar di dunia antara lain berkat kerja keras para pendatang. Tapi, di saat krisis ekonomi melanda, warga asing makin sulit masuk ke AS.

KabarIndonesia – Tiap orang, mulai dari tukang sapu sampai pencuci piring di restoran, bisa menjadi jutawan – mimpi khas Amerika inilah yang memancing jutaan orang pendatang dari seluruh penjuru dunia untuk datang ke negeri Paman Sam. Pukul 5 pagi. Antrian panjang pekerja musiman Meksiko terlihat di perbatasan antara Meksiko dan St. Luis Rio di negara bagian Arizona. Sebagian besar warga Meksiko yang akan menyeberang ke Amerika Serikat memiliki visa kerja. Visa jenis H 2 A mengizinkan pemiliknya untuk bekerja sebagai buruh musiman di AS. Untuk mendapatkan visa jenis ini, para pelamar harus membayar 400 Dollar atau sekitar 4,2 juta Rupiah dan menunggu sampai tiga bulan. Namun, visa ini pun belum menjamin para buruh mendapatkan kerja.

Tiap hari, sekitar 10.000 orang mengantri di perbatasan, tapi separuh akan pulang dengan tangan kosong. Pemandangan ini terlihat setiap hari, demikian dilaporkan stasiun radio AS NPR.

Janine Duron dari pusat buruh pertanian mengatakan, “Karena situasi ekonomi, tahun ini para petani menanam 40 persen lebih sedikit salada. Akibatnya, kebutuhan akan pekerja asing menurun dan kerja yang ada hanya cukup untuk buruh lokal.”

Uniknya, pekerja lokal yang dimaksud di sini kebanyakan adalah warga Hispanik, warga keturunan Amerika Latin, tapi yang yang sudah lama hidup di Amerika Serikat dan memiliki izin tinggal tetap. Mereka termasuk warga pendatang yang hidup di AS secara legal. Tahun 1990, hampir 900.000 warga pendatang yang sebelumnya berstatus imigran gelap mendapatkan izin tinggal resmi. Tapi, bersamaan dengan itu, undang-undang imigrasi diperketat.

Tahun-tahun belakangan, politik imigrasi AS berubah menjadí lebih konservatif. Amerika Serikat dan Meksiko sekarang dipisahkan oleh pagar perbatasan yang panjangnya berkilometer-kilometer. Selain itu, jumlah visa yang dikeluarkan juga berkurang karena krisis ekonomi. Tapi, bagaimana dengan warga pendatang yang sudah memiliki izin tinggal dan kerja tetap di Amerika Serikat?

Paul Muthart, pemilik Pasquinelli Farm, pertanian dan perternakan yang terletak di Yuma, di segitiga perbatasan antara Meksiko, Kalifornia dan Arizona menuturkan, “Mereka yang biasa bekerja di atas atap, di dapur atau hotel-hotel sekarang beralih dan bekerja di sektor pertanian.”

Bagi sebagian besar warga pendatang, sektor pertanian kerap menjadi tempat pertama mereka mencari pekerjaan setelah tiba di AS. Tahun 2007, Amerika Serikat mengeluarkan 170.000 visa pekerja musiman untuk sektor pertanian. Tahun lalu, jumlahnya berkurang drastis.

Lain lagi situasinya di kota besar. Di Washington misalnya. Selama bertahun-tahun perusahaan piranti lunak Microsoft merekrut pakar dan ahli IT dari seluruh penjuru dunia. Dengan visa tipe H1B1, Microsoft mendatangkan orang-orang terbaik di bidangnya untuk bekerja di AS. Sejumlah lembaga peneliti dan bank besar melakukan hal yang sama. Tapi belakangan, jumlah warga asing yang direkrut lembaga-lembaga besar AS menurun.

Christel Williams dari Asosiasi Pengacara AS mengatakan, “Secara keseluruhan, pemberian visa kerja H1B1 bereaksi dengan tepat atas situasi ekonomi saat ini. Ini menunjukkan bahwa politik ini sudah menyesuaikan diri dengan keadaan pasar.”

Bisnis besar AS pun tak terluput dari imbas krisis ekonomi. Faktor lain adalah meningkatnya rasa nasionalisme di saat-saat krisis. Buy American, atau belilah produk Amerika, itulah slogan yang diusung banyak toko-toko Amerika. Tren ini juga berlaku bagi perusahaan besar yang kini cenderung memperkerjakan warga Amerika Serikat.
Vivek Wadhwa dari Univeristas Duke mengatkan, “Mereka mengatakan, memberi pekerjaan bagi pegawai H 1 B tidak patriotis dan itu menyebabkan para penanggung jawab takut.”

Apakah ini kekuatiran yang berlebihan atau dampak berhentinya roda perekonomian?

Tahun ini, pemerintah AS memberikan visa bagi tenaga ahli kepada 65.000 warga asing, Tapi bisnis AS hanya memperkerjakan sebagian dari mereka. Selain pekerja musiman di sektor pertanian, sejumlah periset dan tenaga ahli top di luar itu, warga asing yang datang ke AS untuk mengejar mimpinya akan kesulitan mendapatkan kerja.

Greencard atau kartu hijau yang diidam-idamkan oleh para pendatang sangat sulit didapatkan. Persyaratan untuk mendapatkan izin tinggal dan kerja tetap di AS cukup rumit. Rupelt Kathari, seorang pengacara yang khusus menangani kasus izin tinggal mengatakan, “Saat ini keadaannya rumit karena memang jumlah visa untuk tiap kategori sangat terbatas. Baik itu visa untuk anggota keluarga, maupun bagi perusahaan.”

Kemungkinan lainnya adalah mengikuti undian Greencard yang dilakukan tiap tahun. AS memberikan peluang bagi 50.000 warga asing untuk hidup dan bekerja di AS. Lima ribu greencard lainnya diberikan khusus bagi warga Amerika Selatan. Dalam putaran terakhir, sembilan juta orang mengajukan permohonan untuk mendapatkan Greencard AS.

Di luar 5.000 warga Amerika Latin yang masuk ke AS secara legal tiap tahun, ribuan lainnya berupaya menyeberangi perbatasan dari Meksiko. Tapi perjalanan mereka sekarang dihalangi pagar setinggi lima meter yang terbentang dari Kalifornia sampai Texas. Pagar pembatas ini punya makna simbolis bagi politik pendatang AS. Tertutup, tanpa celah, sangat sulit ditembus.

Bagi warga asing, makin sulit masuk AS. Daniel Doty adalah polisi perbatasan di Texas mengatakan, “Tahun lalu, kami menahan 75.000 orang di sini, lebih 20.000 tidak berasal dari Meksiko. Mereka datang dari hampir 70 negara.”

Walau begitu, para petugas perbatasan tidak berhasil menghentikan sama sekali arus pendatang gelap yang mencoba masuk ke Amerika Serikat.

“Mereka baru mengamati penurunan jumlah pendatang saat krisis ekonomi melanda AS. Jumlah warga Hispanik yang menyeberang perbatasan kini berkurang,” kata Rakesh Kochhar dari Lembaga Peneliti Pew.

Ia mengamati situasi pasar kerja bagi warga Hispanik di Amerika Serikat. “Riset kami menunjukkan bahwa situasi ekonomilah yang menjadi faktor utamanya dan bukan diperketatnya perbatasan. Memang selalu terlihat adanya peningkatan jumlah pendatang di saat boom ekonomi dan sebaliknya jumlah pendatang menurun saat krisis.”(*)

Dilaporkan oleh: Rüdiger Paulert/Ziphora Eka Robina
Sumber: http://www.dw-world.de

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: